Surat Kelimabelas: Bakal gimana?
Mars,
Wah, tidak terasa ya! Aku sudah setengah jalan menulis surat-surat pengakuan cinta kepadamu. Aku kira aku akan bosan dan berhenti di tengah jalan, tapi ternyata aku terus lanjut malah aku selalu menanti hari esoknya untuk mengungkapkan perasaanku ini. Hihihihi.
Mars, hari ini aku mengadakan pesta perpisahan untuk temanku. Namanya Jeong Tae Hun, ia akan pulang ke Korea besok sore. Aku bersama ketiga temanku bersenang-senang dengannya hingga sore hari. Kami memberikan ia kado dan berfoto-foto. Kami sedih sekali dia harus pulang ke Korea, tapi sore itu membuat keadaan sangat menyenangkan.
Menyenangkan sampai salah satu temanku bertanya padaku, “Kalau Ayang Eci yang pulang lo bakal gimana?”
Oya, teman-temanku dan aku memiliki nama samaran untukmu: Ayang Eci. Aneh ya? Lumayan.
Oke, setelah pertanyaan itu aku terdiam beberapa detik, gak bisa mikir. Lalu, tiba-tiba terbayang bagaimana aku memberikan kenang-kenangan terakhir untukmu dan terbayang pula perpisahan penuh air mata di airport. Galau deh jadinya.
Sekarang, aku mendownload sekitar 10 lagu galau tentang perpisahan. Berlebihan? Enggak juga sih, habis gimana dong? Aku takut! Aku belum mau berhenti mengejar kamu, aku masih ingin melihat wujudmu, masih mau melihat kemeja-kemejamu yang rapih itu, masih mau melihat senyummu. Aku belum siap berpisah. Aku nggak tahu ah!! Gak mau ngebayangin!
“What hurts the most was being so close and having so much to say and watching you walk away”
Saking seringnya aku menangis takut setelah kita benar-benar berpisah kamu akan lupa padaku, aku sedang dalam tahap muak sendiri. Air mataku sampai tidak bisa keluar lagi dan ada sesuatu yang tertahan di dada. Enggak enak! Nyiksa!
Yang sedang bernyanyi-nyanyi sambil bersedih,
Venus